Esai : Blackberry di Indonesia : Kebutuhan, Gaya Hidup, atau Ironi?

Blackberry di Indonesia : Kebutuhan, Gaya Hidup, atau Ironi?


Blackberry diciptakan oleh RIM (Research In Motion), sebuah perusahaan dari Kanada. Blackberry difungsikan sebagai ponsel cerdas (Smartphone) yang saat ini menduduki 20.8% dari pangsa pasar ponsel cerdas setelah Nokia dan Symbian Operating Systemnya. Ponsel cerdas yang diluncurkan untuk pertama kalinya tahun 1999 dengan layar monokrom ini dikhususkan sebagai e-mail client. Pada saat itu, RIM tidak membatasi layanan push e-mail nya hanya pada ponsel Blackberry saja, namun kepada ponsel cerdas lainnya melalui Blackberry Connect Software. Seiring perjalanan waktu, semua menjadi berubah dengan penambahan fitur, juga layar yang sudah mendekati warna asli (True Colors/32bit).

Blackberry di Indonesia diperkenalkan pada pertengahan Desember 2004 oleh operator Indosat dan perusahaan Starhub. Perusahaan Starhub merupakan pengejewantahan dari RIM yang merupakan rekan utama BlackBerry. Di Indonesia, Starhub menjadi bagian dari layanan dalam segala hal teknis mengenai instalasi BlackBerry melalui operator Indosat. Indosat menyediakan layanan BlackBerry Internet Service dan BlackBerry Enterprise Server

Pasar BlackBerry kemudian diramaikan oleh dua operator besar lainnya di tanah air yakni Excelkom dan Telkomsel. Excelkom menyediakan dua pilihan layanan yaitu BlackBerry Internet Service dan BlackBerry Enterprise Server+ (BES+).

BES+ adalah layanan gabungan dari BES dan BIS, ditujukan bagi pelanggan korporasi sehingga pelanggan dapat menerima dan mengirim email kantor yang berbasis Microsoft Exchange, Novel Wise, Lotus Domino dan 10 akun e-mail berbasis POP3/IMAP melalui telepon genggam. Sejauh ini, fasilitas BlackBerry memang baru dimanfaatkan oleh para pengguna pribadi dan korporasi, belum merambah hingga bidang pemerintahan dan intelijen seperti di negara-negara lain.

Setelah mengetahui sedemikian besar fitur Blackberry, pertanyaan terbesarnya adalah, mengapa di Indonesia saat ini pengguna Blackberry resmi tercatat 300-400 ribu pelanggan (detikinet.com) sedang Amerika hanya berkisar 1-2 juta pelanggan dan semua adalah dari kalangan korporat. Sementara kecenderungan di Indonesia, Blackberry menjadi perangkat milik personal, bukan korporat. Ini tidak lazim, menurut data RIM sendiri saat ini pengguna Blackberry telah menyentuh 41 juta dengan 38% nya adalah dari pangsa Internasional. Dan perlu diketahui, saat ini pengguna Blackberry terbesar di Asia adalah Indonesia. Perlu diketahui pula, bahwa hanya 30% dari pengguna Blackberry di Indonesia yang menggunakan sebagai keperluan bisnis, 70% nya menggunakan hanya untuk Blackberry Messenger dan keperluan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan MySpace (articlesnatch.com). Lucunya, sekarang kebiasaan orang untuk meminta nomor telpon sudah bergeser kepada permintaan PIN Blackberry Messenger agar para pengguna Blackberry bisa saling mengirim pesan ke sesama pengguna.

Menilik dari itu semua, orang akan bertanya pula tentang harga. Sebuah kegilaan sekarang adalah operator di Indonesia mulai menawarkan bundling dengan harga fantastis, terakhir di dengar adalah operator Three yang menawarkan Rp 88.000 perbulan untuk menikmati full Blackberry Internet Service, bahkan operator Smart menawarkan akses EV-DO dengan layanan tercepat saat ini dengan ponsel Blackberry yang berkanal CDMA. Ketakjuban ini tidak berakhir sampai disini, karena sekarang, setelah demam Blackberry, semua orang ingin mendapatkan ponsel cerdas tersebut, ,maka operator menawarkan cicilan dengan syarat penggunaan pulsa layanan diatas Rp 500.000 perbulannya. Sebut saja Telkomsel yang melakukan hal tersebut. Tidak berhenti disitu pula, banyak layanan kartu kredit yang memberikan cicilan 0% sampai 6 bulan untuk produk Blackberry ini.

Kualitas Blackberry asli tentu saja menjanjikan dengan PIN yang valid dan juga full service, namun jika kendala pada harga, dan keinginan untuk membeli Blackberry sudah menguat, beberapa penjual ponsel menawarkan Ponsel Blackberry BM (Blackmarket) alias illegal. Sesuai Peraturan Menteri Kominfo No. 29/PER/KOMINFO/9/2008 , pemerintah telah mengadakan pertemuan antara pihak RIM dan operator Indonesia untuk membasmi hal ini. Namun pada akhirnya, Blackberry BM masih saja beredar di Indonesia dengan harga yang lumayan jauh dipatok dari harga asli. Catatan terakhir, Blackberry tipe Bold yang resmi (Telkomsel) : Rp 5.699.000 (bhineka.com) dan versi BM nya seharga Rp 3.875.000 (handphonemurah.com) – Harga per April 2010. Sialnya, provider langsung memblokir pada Blackberry yang PINnya dideteksi illegal, alias tidak bisa menikmati Blackberry Internet Service yang memang diatur servernya langsung oleh RIM.

Hal yang tak enak tersebut sedikit bisa terobati dengan keluarnya ponsel lokal buatan Cina dengan berbagai merk dengan membuat casing dan fitur serupa yang dimiliki Blackberry. Sebut saja salah satunya adalah Beyond B68 yang mirip dengan Blackberry Gemini yang dijual dengan harga Rp 499.000. Fantastis bukan? mendapatkan HP qwerty keypad dengan tampilan layaknya sebuah replika BB. Belum lagi sekarang HP cina juga meniru Nokia E-Series dan Apple iPhone 3Gs dan tentu saja Blackberry Series. Hebatnya Depkominfo melalui Dirjen Postel mengizinkan HP tersebut beredar secara bebas, tidak ada penuntutan hak cipta produk dari produsen asli. Hal ini menggelikan sebenarnya jika kita mengingat bagaimana di Amerika, sebuah situs Groovle.com dituntut Google.com hanya karena dianggap meniru kata saja. Lalu di Indonesia, bagaimana dengan penjiplakan interface seperti yang dilakukan Handphone merek Lokal made in China? Percaya atau tidak, itu faktanya. Kalau dahulu Produk Cina terkenal dengan Mocin (Motor Cina)nya, sekarang HP nya yang membanjiri pasar, menampar merek-merek terkemuka dengan fitur dan harga fantastis dan sangat miring.

Ada fakta unik setelah orang-orang membeli HP Cina mirip Blackberry orang akan berkata : “ wah wah, itu Bluberry ya atau Beyond berry?” Semakin ironis ketika seseorang mencoba tampil gaya dengan tampilan Blackberry bajakan, malah cacian yang diberikan. Kondisi social di Indonesia mengisyaratkan bahwa seorang akan dikatakan hebat dengan memiliki benda-benda mutakhir dan canggih. Ini terjadi di Strata social pelajar. Gengsi nomor satu, orangtua urusan belakangan. Mengenaskan. Sungguh mahal harga sebuah gengsi. Tidak punya Blackberry tidak dianggap gaul atau nge-trend.

Melihat semua kegilaan Blackberry yang terjadi di Indonesia kini, sebenarnya ini sebuah fenomena dadakan atau memang masyarakat Indonesia yang latah teknologi? Sesuai dengan data tahun 2004 ketika Nokia Communicator 9500 pertama kali diluncurkan di dunia. Negara pertama yang mendapatkannya adalah Indonesia. Cukup fantastis pada bulan April 2008 tersebut, karena ponsel cerdas itu dilepas dengan harga Rp 9 juta dengan antrian di depan Hotel Gran Melia, Jakarta sepanjang lebih dari 100 meter. Sedangkan kita mengetahui bahwa Indonesia bukan Negara maju atau bisa dikatakan kaya dibanding Negara G-20 (www.G20.org) sekalipun. Data dari World Factbook milik Central Intelligence Agency (www.cia.gov) menunjukkan kita peringkat 6 dunia dalam penggunaan telpon genggam dengan 30 juta pengguna. Ini sebenarnya adalah peningkatan yang fantastis untuk Teledensitas Indonesia, yang artinya komunikasi semakin lancar. Namun pada akhirnya jika ditilik lebih jauh, tak semua orang Indonesia sadar membeli telepon genggam sebagaimana mestinya. Sama ketika Blackberry menjadi demam yang semakin mewabah. Apakah banyak orang akan memanfaatkan E-mail clients? Apakah orang akan terbiasa menggunakan BBMessenger setiap harinya? Apakah orang akan sepenting seorang businessman ketika memegang Blackberry? Apa yang sebenarnya menjadi tolok ukur seseorang membeli Blackberry di Indonesia. Perlu dipahami pula bahwa kita masih berkutat dengan teknologi standar (baca : sms dan telpon). Kita tak perlu muluk-muluk dengan 3G/HSDPA atau fitur “mewah” sementara kita hanya butuh teknologi standar saja.

Ini adalah fakta tentang hal terburuk yang dihasilkan oleh penggunaan Blackberry: Efek Crackberry. Crackberry berasal dari kata crack yang berarti kokain dan kata Blackberry. Kemudahan yang dihadirkan dalam mengakses e-mail dan pesan instan membuat para pengguna seringkali tak bisa lepas dari BlackBerry. Efek yang dihasilkan membuat para pengguna tampak seperti orang yang kecanduan dengan BlackBerry. Crackberry pun menimbulkan kekhawatiran akan perubahan ritme kerja menjadi tidak sehat dan hilangnya keseimbangan hidup. Hal ini kemudian membuat beberapa pemerintahan negara membatasi bahkan melarang penggunaan BlackBerry. Efek ini cukup mengerikan, bukan?

Semua bukan kesalahan siapapun, teknologi memang milik semua. Namun jika sempat memikirkan kembali, Blackberry perlu untuk dihadirkan di Indonesia, namun dengan menilik kondisi social yang ada, kelihatannya pemerintah harus mengatur jeli kombinasi antara harga perangkat dan kesehatan dunia usaha khususnya di bidang layanan. Semua semacam dejavu ketika kita dihadapkan pada derasnya arus teknologi, dari tahun ke tahun kita selalu latah dalam perkembangan teknologi yang ada. Indonesia bukan Negara lemah, tapi Negara yang sangat kuat, jika pendapat ini dianggap salah, kenapa kata Blackberry selalu muncul setiap hari? Kita selalu satu selera, satu pemikiran, hanya berbeda kemampuan.

Terlepas dari itu semua, semua kembali ditanyakan pada masing-masing individu yang telah “memahami” kehadiran Blackberry di Indonesia. Ingin terjangkit, menjangkiti atau dijangkiti demam ini, terserah. Semua berpulang kepada apa yang dimulai ketika ingin memiliki benda cerdas tersebut: 1.Kebutuhan? 2. Gaya hidup? atau 3. Ironi? Saat ini untuk sementara, pilihan kesatu bisa disingkirkan sejenak, mungkin akan ditanyakan beberapa tahun lagi.

Oleh: Julian Suhamto

06/198316/SA/13849

Sastra Prancis – Universitas Gadjah Mada

Sebuah Esai ngawurr tentang Blekberi..buat mata kuliah yang salah aku ambill..tapi ane bukan plagiator.

ini buatan ane. Citation disertakan kok.

Komentar

Postingan Populer